2726-5507-1-SP (2)

  • Uploaded by: fadia naura
  • Size: 106.2 KB
  • Type: PDF
  • Words: 2,168
  • Pages: 7
Report this file Bookmark

* The preview only shows a few pages of manuals at random. You can get the complete content by filling out the form below.

The preview is currently being created... Please pause for a moment!

Description

PENGARUH PEMBERIAN SUSU KEDELAI TERHADAP PENINGKATAN PRODUKSI ASI PADA IBU NIFAS DI RB BINA SEHAT BANTUL Elika Puspitasari Prodi DIV Bidan Pendidik Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas ‘Aisyiyah Yogyakarta Email: [email protected] Produksi ASI yang sedikit menjadi masalah utama para ibu yang baru melahirkan, selain masalah puting susu tenggelam atau datar, payudara bengkak, bayi enggan menyusu karena teknik yang kurang benar atau bayi yang berlidah pendek . Tujuan penelitian ini untuk mengetahui pengaruh pemberian susu kedelai terhadap peningkatan produksi ASI pada ibu nifas di RB Bina Sehat Bantul tahun 2015. Penelitian ini menggunakan metode quasi experiment dengan rancangan One Group Pretest-Postest. Pengambilan sampel dilakukan dengan metode purposive sampling. Responden yang digunakan adalah ibu nifas empat sampai sepuluh hari post partum. Analisis bivariat yang digunakan dalam penelitian ini adalah uji beda nonparametrik dengan uji Wilcoxon. Hasil penelitian ini menunjukkan sebagian besar responden tidak bekerja sebanyak 30 orang (75%). Diawal proses menyusui responden yang mengalami masalah diantaranya 17 orang (37,5%) puting lecet dan 15 orang (42,5%) pengeluaran ASI belum lancar. Dari 40 orang responden, sebelum diberikan intervensi susu kedelai sebanyak 14 orang (35%) mengeluh ASI-nya sedikit lancar. Peningkatan produksi ASI sesudah diberikan susu kedelai sebanyak 35 orang (77,5%) dengan kategori ASI sangat lancar dan 5 orang (12,5%) ASI lancar. Hasil analisis bivariat dengan membandingkan nilai pre dan posttest menunjukkan nilai p=0,000 (p<0,05). Simpulannya pemberian susu kedelai berpengaruh positif terhadap peningkatan produksi ASI pada ibu nifas. Kata kunci : Susu kedelai, Produksi ASI

PENDAHULUAN WHO menyebutkan bahwa 42 % penyebab kematian balita di dunia adalah penyakit pnemonia 20% dan selebihnya 58% adalah malnutrisi yang sering kali terkait dengan asupan ASI (Siswono, 2006). Manfaat ASI (Air Susu Ibu) dapat dilihat dari beberapa aspek baik dari segi gizi, aspek imunologik, aspek psikologis, aspek kecerdasan, neurologis, ekonomis dan aspek penundaan kehamilan (Depkes, 2008). Setiap wanita khususnya yang baru melahirkan memiliki pengalaman menyusui yang berbeda-beda, ada yang merasakan nyeri ketika pertama kali menyusui, ada yang sampai terjadi pembengkakan payudara, sehingga mereka enggan menyusui bayinya. Padahal menyusui merupakan suatu proses alamiah, namun sering ibuibu tidak berhasil menyusui atau menghentikan menyusui lebih dini dari yang semestinya. Air susu ibu (ASI) adalah makanan utama bayi yang terbaik dan dapat memenuhi kebutuhan gizi bayi selama tiga sampai enam bulan pertama. (WHO, 2007). Produksi ASI yang sedikit menjadi masalah utama para ibu yang baru melahirkan, selain masalah puting susu tenggelam atau datar, payudara bengkak, bayi enggan menyusu karena teknik yang kurang benar atau bayi yang berlidah pendek (Dewi, 2013). Hal ini berakibat buruk pada bayi karena ibu biasanya mencari alternatif dengan memberikan susu formula pada bayinya yang menyebabkan intensitas isapan bayi menjadi berkurang karena bergantian

menggunakan susu formula yang menjadikan ASI menjadi semakin sedikit yang keluar (Budiasih, 2008). Ditetapkannya Kepmenkes No 450 Tahun 2004 tentang Pemberian Air Susu Ibu secara Eksklusif pada Bayi di Indonesia (Widjaya, 2007). Pada Pekan ASI sedunia tahun 2010 Kementrian Kesehatan RI juga meluncurkan Program Menyusui; Sepuluh Langkah Menuju Sayang Bayi, dengan slogan Sayang Bayi, dan Beri ASI. Oleh karena itu, ibu menyusui memerlukan bantuan agar proses menyusui lebih berhasil, salah satunya adalah dengan cara mengkonsumsi bahan makanan yang mampu merangsang produksi ASI. Produksi ASI dapat dilancarkan dengan mengkonsumsi, beberapa obat yang memperlancar ASI dari ekstrak daun katuk, dan susu bubuk maupun cair khusus untuk ibu menyusui. Ironisnya di pedesaan keberadaan daun katuk susah didapat, apalagi obat pelancar ASI, sedangkan susu khusus ibu menyusui harganya terlalu mahal bagi warga desa, dan tidak semua ibu menyukai susu. Alternatif lain untuk menunjang kebutuhan gizi ibu selama masa nifas adalah dengan konsumsi susu kedelai. METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan metode eksperimen (quasi experiment). Desain penelitian ini menggunakan rancangan One Group Pretest-Postest. Dimana tidak ada kelompok pembanding (kontrol), tetapi sudah dilakukan observasi pertama (pre-test) yang kemungkinan peneliti dapat menguji

perubahan-perubahan yang terjadi setelah adanya eksperimen (program) (Notoatmodjo, 2005). Pengambilan sampel dilakukan dengan metode purposive sampling. Uji normalitas data dilakukan dahulu sebelum dilakukan analisis bivariat. Hasil uji shapiro-wilk (n<50) diperoleh hasil p=0,001, dapat disimpulkan bahwa sebaran data numerik dari selisih skor pretest dan posttest tidak normal. Selanjutnya dilakukan analisis bivariat non parametrik dengan uji wilcoxon. HASIL DAN PEMBAHASAN Karakteristik responden Tabel 1. Distribusi Frekuensi Karakteristik Responden Variabel Umur 20-35 tahun >35 tahun Gravida 1 2 3 4 Pekerjaan Tidak bekerja Bekerja Riwayat Penyakit Tidak ada Ada penyakit penyerta Masalah Menyusui Tidak ada Puting lecet ASI belum lancar

n

%

34 6

85 15

17 19 3 1

42,5 47,5 7,5 2,5

30 10

75 25

27 13

67,5 32,5

8 15 17

20 37,5 42,5

Tabel 1. menunjukkan bahwa sebagian besar responden dalam rentang usia reproduksi sehat (2035tahun) sebanyak 34 orang (85%) dan sisanya sebanyak 6 orang

(15%) termasuk dalam golongan usia resiko tinggi. Variasi gravida ataupun jumlah kehamilan yang pernah dialami ibu sebagian besar menyatakan ini adalah kehamilan yang kedua sebanyak 19 orang (47,5%), dilanjutkan kehamilan pertama 17 orang (42,5%), lalu kehamilan ketiga 3 orang (7,5%), dan kehamilan keempat 1 orang (2,5%). Sebagian besar responden tidak bekerja sebanyak 30 orang (75%) dan sisanya bekerja 10 orang (25%) dengan pekerjaan yang bervariasi yaitu buruh, bisnis online, guru, wiraswasta, pedagang, dan karyawan swasta. Mayoritas responden tidak memiliki riwayat penyakit penyerta 27 orang (67,5%) dan 13 orang (32,5%) memiliki riwayat penyakit diantaranya alergi, maag, migrain, anemia, hipotensi, kista, dan flek paru-paru. Diawal proses menyusui ada pula responden yang mengalami masalah diantaranya 17 orang (37,5%) puting lecet, 15 orang (42,5%) pengeluaran ASI belum lancar, dan 8 orang (20%) tidak ada masalah. Tabel 2. Klasifikasi produksi ASI sebelum diberikan susu kedelai Peningkatan Produksi ASI Sebelum konsumsi susu kedelai ASI tidak lancar ASI sedikit lancar ASI lancar ASI sangat lancar Sesudah konsumsi susu kedelai ASI tidak lancar ASI sedikit lancar ASI lancar ASI sangat lancar

Berdasarkan tabel 2, diketahui bahwa sebelum diberikan intervensi

n

%

0 14 18 8

0 35 45 20

0 0 5 35

0 0 12,5 77,5

susu kedelai sebagian besar responden produksi ASI-nya lancar yaitu 18 orang (45%), ASI sedikit lancar 14 orang (35%), dan ASI sangat lancar 8 orang (20%). Peningkatan produksi ASI sesudah diberikan susu kedelai sebanyak 35 orang (77,5%) dengan kategori ASI sangat lancar dan 5 orang ASI lancar (12,5%). Tabel 3. Hasil analisis dengan uji wilcoxon Peningkatan Produksi ASI

N

sebelum konsumsi susu kedelai sesudah diberikan susu kedelai

40

Median (Min Max 4 (1 9)

40

9 (5 10)

Nilai p 0,000

Hasil uji wilcoxon menunjukkan nilai p=0,000 (p<0,05) dapat disimpulkan bahwa ada pengaruh pemberian susu kedelai terhadap peningkatan produksi ASI. Pengaruh susu kedelai terhadap peningkatan produksi ASI menunjukkan efek positif dimana seluruh responden mengalami peningkatan produksi ASI. Susu kedelai yang merupakan minuman olahan dari sari pati kacang kedelai memiliki banyak kandungan gizi dan manfaat. Potensinya dalam menstimulasi hormon oksitoksin dan prolaktin seperti alkaloid, polifenol, steroid, flavonoid dan substansi lainnya efektif dalam meningkatkan dan memperlancar produksi ASI. Reflek prolaktin secara hormonal untuk memproduksi ASI, waktu bayi menghisap puting payudara ibu, terjadi rangsangan neorohormonal pada puting susu dan areola ibu. Rangsangan ini

diteruskan ke hipofisis melalui nervos vagus, kemudian ke lobus anterior. Dari lobus ini akan mengeluarkan hormon prolaktin, masuk ke peredaran darah dan sampai pada kelenjar-kelenjar pembuat ASI. Kelenjar ini akan terangsang untuk menghasilkan ASI (Murtiana, 2011). Isoflavon yang terkandung pada susu kedelai merupakan asam amino yang memiliki vitamin dan gizi dalam kacang kedelai yang membentuk flavonoid. Flavonoid merupakan pigmen, seperti zat hijau daun yang biasanya berbau. Zat hijau daun memiliki banyak manfaat bagi kesehatan tubuh. Secara garis besar, manfaat dari isoflavon yang terkandung pada susu kedelai adalah meningkatkan metabolisme dalam tubuh, merupakan nutrisi yang dibutuhkan oleh tubuh, mencegah sembelit, meningkatkan sistem kekebalan tubuh, menguatkan tulang dan gigi, mengendalikan tekanan darah, mengendalikan kadar kolesterol, mencegah resiko obesitas dan menghilangkan gejala penyakit maag. Isoflavon atau hormon phytoestrogen adalah hormon estrogen yang diproduksi secara alami oleh tubuh dan bisa membantu kelenjar susu ibu menyusui agar memproduksi ASI lebih banyak. Dengan pemanfaatan kedelai yang dapat meningkatkan produksi ASI, diharapkan mampu menunjang keberhasilan program pemerintah (Kementerian Kesehatan) dalam upaya pemberian ASI Eksklusif. Hasil penelitian ini diperoleh nilai p=0,000 (p<0,05) yang menunjukkan ada pengaruh

pemberian susu kedelai terhadap peningkatan produksi ASI. Pengaruh susu kedelai terhadap peningkatan produksi ASI menunjukkan efek positif dimana seluruh responden mengalami peningkatan produksi ASI. Dari analisis univariat diketahui sebanyak 35 ibu (77,5%) masuk dalam kategori ASI sangat lancar. Hal ini sesuai dengan Shohib (2006) yang menyebutkan bahwa kandungan dari kacang-kacangan mampu membantu proses pertumbuhan janin pada ibu hamil serta mampu mengoptimalkan pengeluaran ASI serta kepekatan warna ASI pada ibu menyusui. Sejalan dengan hasil penelitian Selin, et. all (2010) bahwa isoflavon dengan kadar yang lebih tinggi pada bayi ditemukan pada ibu yang rutin mengkonsumsi tahu dan susu kedelai. Isoflavon dalam olahan kedelai dipercaya dapat meningkatkan produksi ASI dan mengurangi risiko kanker payudara. Meningkatkan pembelahan sel-sel payudara, menekan pertumbuhan sel-sel tumor, dan mekanisme yang lainnya. Didukung juga oleh hasil penelitian Andrian, et.all (2006) bahwa ibu yang mengkonsumsi bahan makanan yang terbuat dari kedelai baik berupa susu kedelai dan olahan kedelai lainnya diyakini dapat meningkatkan kadar isoflavone dalam jaringan di payudara. Kedelai jika dikonsumsi secara rutin bisa berefek baik untuk kesehatan yaitu mencegah terjadinya kanker payudara. Teori dari Syherni (2009) yang mengatakan bahwa salah satu penyebab kenapa ASI tidak bisa keluar dengan maksimal selain dari

faktor nutrisi yang dikonsumsi oleh ibu adalah faktor berapakali ibu tersebut sudah pernah menyusui. Biasanya ibu yang primi lebih sering mendapati kesulitan tentang pengeluaran ASI yang tidak bisa maksimal. Responden dalam penelitian ini ada beberapa yang mengalami masalah diantaranya 37,5% puting lecet, 42,5% pengeluaran ASI belum lancar, dan 20% tidak ada masalah. Namun demikian responden tetap berusaha memberikan ASI-nya kepada sang bayi. Responden yang dipilih adalah ibu nifas hari keempat dan selanjutnya diberikan intervensi untuk mengkonsumsi susu kedelai secara rutin selama 7 hari yang kemudian dievaluasi pada hari kesepuluh. Menilik kembali pada teori yang membedakan ASI dalam tiga stadium (Dewi, 2013): 1)Kolostrum, yaitu cairan pertama yang diperoleh bayi pada ibunya adalah kolostrum, yang mengandung campuran kaya akan protein, mineral, dan antibodi dari pada ASI yang telah matang. Kolostrum berubah menjadi ASI matang kira-kira 15 hari sesudah bayi lahir. Bila ibu menyusui sesudah bayi lahir dan bayi sering menyusu, maka proses ASI akan meningkat. ASI terdiri atas kirakira 90% air sehingga bayi yang menyusu tidak membutuhkan cairan lain bagi tubuhnya; 2)ASI masa peralihan (transisi), merupakan masa dimana ASI peralihan dari kolostrum sampai menjadi ASI yang matur. Disekresi dari hari ke – 4 sampai hari ke – 10 dari masa laktasi, tetapi ada pula pendapat yang mengatakan bahwa

ASI matur baru terjadi pada minggu ke – 3 sampai minggu ke – 5. Volumenya juga akan makin meningkat; 3)ASI matur, merupakan ASI yang disekresi pada hari ke 4 –10 dan seterusnya. Komposisi ASI relatif konstan dan tidak menggumpal bila dipanaskan. Air susu yang mengalir pertama kali atau saat lima menit pertama disebut foremilk. Foremilk lebih encer, serta mempunyai kandungan lemak, tinggi laktosa, gula, protein, mineral dan air. Selanjutnya, air susu berubah menjadi hindmilk. Hindmilk kaya akan lemak dan nutrisi. Hindmilk membuat bayi akan lebih cepat kenyang. Dengan demikian, bayi akan membutuhkan keduanya, baik foremilk maupun hindmilk. Pada bulan terakhir kehamilan, kelenjar-kelenjar pembuat ASI mulai menghasilkan ASI. Dalam kondisi normal, pada hari pertama dan kedua sejak lahir, air susu yang dihasilkan sekitar 50100 ml sehari. Jumlahnya pun meningkat hingga 500 ml pada minggu kedua. Dan produksi ASI semakin efektif dan terus-menerus meningkat pada hari 10-14 hari setelah melahirkan. (Prasetyono, 2009). SIMPULAN Pemberian intervensi untuk mengkonsumsi susu kedelai berpengaruh positif terhadap peningkatan produksi ASI pada ibu nifas. SARAN Bidan diharapkan dapat memberikan informasi kepada ibu menyusui terkait bahan alami yang

dapat menunjang peningkatan produksi ASI selain dari daun katuk, juga ada kacang kedelai yang mengandung isoflavon tinggi. DAFAR RUJUKAN Adrian A Franke, Brunhild M Halm, Laurie J Custer, Yvonne Tatsumura, and Sandra Hebshi. 2006. Isoflavones in breastfed infants after mothers consume soy. The American Journal of Clinical Nutrition, 84 ; 406-413. http://ajcn.nutrition.org Budiasih, Kun Sri. 2008. Handbook Ibu Menyusui. Bandung : PT Karya Kita. Dewi, Vivian, Nanny, Lia. 2013. Asuhan Kebidanan pada Ibu Nifas. Jakarta: Salemba Direktorat Jenderal Bina Kesehatan Masyarakat, Pedoman penyelenggaraan pelatihan konseling menyusui dan pelatihan fasilitator konseling menyusui. 2008. Jakarta: Departemen Kesehatan. Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 450/ MENKES/ SK/ IV/ 2004 tentang Pemberian ASI Eksklusif pada Bayi Indonesia. Available from: URL HIPERLINK. www.gizi.depkes.go.id/ download/ pekanasi-2010 (13 Mei 2014).

Murtiana, T, 2011. Pengaruh Konsumsi Daun Katuk dengan Peningkatan Produksi ASI pada Ibu Menyusui di Wilayah Puskesmas Sawah Lebar Kota Bengkulu Tahun 2011. Jurusan Kebidanan, Politeknik Kesehatan Bengkulu, Bengkulu. Notoatmodjo. 2005. Metodologi Penelitian Kesehatan. Jakarta : Rineka Cipta. Prasetyono D.S, 2009.  ASI Eksklusif, Pengenalan, Praktik, Kemanfaatankemanfaatannya. Yogyakarta: Diva Press. Shohib. 2006. Pembuatan Susu Kacang Hijau Sebagai Alternatif Minuman Kesehatan Selin Bolca, Mireia Urpi-Sarda, Phillip Blondeel, Nathalie Roche, Lynn Vanhaecke, Sam Possemiers, Nawaf Al-Maharik, Nigel Botting, Denis De Keukeleire, Marc Bracke, Arne Heyerick, Claudine Manach, and Herman Depypere. 2010. Disposition of soy isoflavones in normal human breast tissue. The American Journal of Clinical Nutrition, 94 ; 976-984. http://ajcn.nutrition.org Siswono. 2006. Stimulasi dan Nutrisi Penting untuk Bayi. Avaible from http://www.suarapembaha ruan.com/News/2004/10/ 14/index.html.28

Syherni, dkk. 2009. Perawatan Masa Nifas. Yogyakarta : Fitramaya WHO. 2007. Global Strategy for Infant and Young Child Feeding. Avaible from www.who.int/nutrition/to pics/global_strategy/en/ Widjaya. 2007. Undang-Undang Tenaga Kesehatan. Surabaya: Karina

Similar documents

MODUL SPI (2) (2)

mia syamiyah - 940 KB

Przeworski_Week_1 (1)-2-2

aisha - 2.5 MB

Ej 2

malena - 687.3 KB

Chirurgie 2

Claudia Neagu - 149 KB

2020_W2_BRNC 2

Mikky - 145.6 KB

Tomy 2

Gerald Vasquez - 235.9 KB

prueba 2

Castro Klein Business - 119.5 KB

microbiologia 2

Angelica Liberto - 54.9 KB

EJ_2 (2)

erwin - 63.8 KB

MOLODZ 2

erika cervi - 3.2 MB

prueba 2

AliMoreno - 268.5 KB

GDPpc (2)

António J. Correia - 615.3 KB

© 2022 VDOCS.PL. Our members: VDOCS.TIPS [GLOBAL] | VDOCS.CZ [CZ] | VDOCS.MX [ES] | VDOCS.PL [PL] | VDOCS.RO [RO]